Breaking News

20 Ribu Mahasiswa Ilmu Kesehatan Gagal Wisuda Tiap Tahun

20 Ribu Mahasiswa Ilmu Kesehatan Gagal Wisuda Tiap Tahun
Ilustrasi wisuda mahasiswa ( iStock)

ACEHSTANDAR.COM - Direktur perusahaan konsultan perguruan tinggi, SEVIMA, Ridho Irawan menyebut setiap tahun ada sekitar 20 ribu mahasiswa bidang ilmu kesehatan yang gagal wisuda lantaran gagal dalam uji kompetensi.

Merujuk data Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek, setiap tahun ada 40-60 ribu mahasiswa yang mengikuti ujian kompetensi. Namun tingkat kelulusan hanya sekitar 60-64 persen.

"Artinya, ada 20 ribu mahasiswa kesehatan yang gagal lulus hanya karena uji kompetensi," kata Ridho dalam webinar yang diikuti 900 pimpinan kampus kesehatan seperti diberitakan Antara.

"Padahal mereka sudah kuliah bertahun-tahun, dan pengabdian mereka sebagai tenaga kesehatan sangat dibutuhkan untuk menangani Pandemi Covid-19 ini," sambungnya.

Uji kompetensi merupakan kewajiban dari pemerintah untuk mahasiswa tingkat akhir untuk bisa diwisuda. Sistem ujian kompetensi ini disebut sebagai exit exam.

Jika tidak lulus ujian kompetensi, mahasiswa bersangkutan belum bisa dinyatakan lulus dari kampus. Mirip dengan Ujian Nasional di tingkat sekolah.

Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (Polkesma) Budi Susatia mengungkapkan bahwa mahasiswa yang tidak lulus ujian kompetensi harus ujian ulang di tahun berikutnya. Artinya, wisuda juga akan tertunda.

Mahasiswa yang tidak lulus ujian kompetensi harus menambah lagi kuliah selama satu tahun untuk mengikuti ujian ulang.

"Berdasarkan pengalaman kami, mereka yang mengulang ujian, punya kecenderungan untuk gagal lagi di kesempatan kedua dan ketiga," kata Budi Susatia.

Ketua STIKES Alifah Padang, Asmawati menjelaskan bahwa kampus dan mahasiswa harus sama-sama berkomitmen. Kampus memberikan materi pembelajaran, sementara mahasiswa belajar dengan optimal agar bisa lekas diwisuda dan mengabdi ke masyarakat.

Ketika jumlah mahasiswa yang tidak lulus ujian kompetensi cukup banyak, maka nama kampus juga bisa menjadi buruk karena dianggap tidak bisa mendidik mahasiswanya dengan baik. Oleh karena itu, komitmen diperlukan oleh kedua belah pihak.

"Bisa dilakukan dengan rutin belajar satu soal sehari, memanfaatkan teknologi, dan pengelolaan sistem akademik. Mahasiswi kami belajar menggunakan TikTok, mereka membahas soal di media sosial tersebut sambil berjoget dan bernyanyi," kata dia.

"Apapun caranya, yang penting komitmen belajar harus ada, dan mahasiswa harus semangat," sambungnya.

 

Sumber:CNN Indonesia