Breaking News

Kasih Pengertian, Kasih Senyuman

Halau Pemudik Jangan Seperti Ngusir Penjajah

Halau Pemudik Jangan Seperti Ngusir Penjajah
Petugas gabungan dalam Operasi Ketupat Lodaya dan penyekatan arus mudik di kawasan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (7/5/2021). (Foto: NG Putu Wahyu Rama/RM)

JAKARTA- Bapak-bapak dan ibu-ibu petugas yang saat ini mendapatkan kerjaan menghalau para pemudik, tolong dengarkan wejangan pejabat Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Apa wejangannya: rajin-rajinlah kasih pengertian, kasih senyuman. Wejangan KSP ini sangat tepat, karena mencegah warga mudik bukan seperti mengusir penjajah.

Sejak Kamis (8/5), larangan mudik Lebaran mulai diberlakukan. Meskipun aturan itu sudah berlaku, antusias warga yang ingin melakukan mudik masih tinggi. Baik dengan kendaraan pribadi, seperti mobil dan motor. Ada juga yang pakai jasa travel gelap sampai numpang di mobil bak terbuka yang sengaja ditutup terpal.

Namun, upaya yang dilakukan pemudik itu banyak yang tidak berhasil. Personel kepolisian yang sudah berjaga-jaga di lapangan, berhasil mencegatnya. Ada yang diberi sanksi, diputar balik, hingga dikarantina bagi pemudik yang diketahui berstatus positif Covid-19.

Di Jawa Barat saja, hingga kemarin sudah lebih dari 22 ribu kendaraan yang terpaksa diputar balik oleh petugas kepolisian. Umumnya, kendaraan tersebut akan melakukan mudik untuk tujuan ke beberapa wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kapolres Metro Bekasi Kombes Hendra Gunawan mengatakan, pelonjakan arus mudik di hari kedua didominasi pengendara roda dua yang semakin melonjak pesat.

“Sebanyak tiga ratus kendaraan roda dua diputarbalikkan, mengingat para pekerja formal maupun informal yang akan pulang mudik,” tuturnya.

Hingga kemarin malam, petugas telah memutar balik 2.115 kendaraan, baik roda dua, maupun roda empat. “Saya berharap, masyarakat mentaati peraturan pemerintah untuk tidak mudik ke kampung halamannya sesuai anjuran pemerintah agar tidak terjadi klaster baru penularan Covid-19 di wilayah mereka,” pesan Hendra.

“Namun, tidak berlangsung lama, langsung kami lakukan penebalan personel sehingga pemudik dapat dihalau kembali putar balik,” ungkapnya.

Tenaga Ahli Utama Kedeputian Bidang Informasi dan Komunikasi Politik KSP, Joko mengakui, tradisi mudik sulit dihilangkan meskipun sudah ada larangan. Namun, kata dia, aturan tetap harus dijalankan demi menekan angka penyebaran Corona.

“Evaluasinya ada tetap terus dilaksanakan. Ini kan euforia orang (pemudik) sangatlah emosional. Jadi, pihak kepolisian dan petugas lainnya harus tetap mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis,” kata Joko saat meninjau penyekatan pemudik di Kota Cirebon, Jawa Barat, kemarin.

Kata Joko, setiap daerah melakukan penyekatan agar tidak ada pemudik yang berhasil melewati perbatasan daerah. Namun, ia mengakui bahwa tidak semua upaya penyekatan itu berhasil. Karena, tidak sedikit pemudik yang lolos, melewati penyekatan.

“Kita prinsipnya tidak bisa seratus persen menahan orang untuk tidak mudik. Tetapi, upaya ikhtiar pemerintah untuk menahan agar tidak mudik, dibarengi juga dengan pengorbanan masyarakat agar tidak mudik,” imbuh Joko.

Imbauan yang sama sebelumnya juga disampaikan Ketua DPR, Puan Maharani. Politisi PDIP ini meminta personel yang bertugas menghalau pemudik untuk tetap menjaga kesopanan pada masyarakat.

“Saya minta kepada TNI, Polri dan petugas yang besok melaksanakan tugas agar tetap menjaga kesopanan,” kata Ketua DPR RI, Puan Maharani, di Cirebon, Rabu (5/5).

Dalam kesempatan itu, Puan meninjau rencana penyekatan yang dilakukan kepolisian, di Terminal Harjamukti dan Stasiun Cirebon. Dia didampingi oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dan Kakorlantas Polri, Irjen Istiono.

Puan meminta agar petugas yang melakukan penyekatan bisa memberi penjelaskan kepada masyarakat mengenai larangan mudik pada lebaran 2021. Kebijakan itu diambil sebagai upaya untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.

“Perlu diterangkan, larangan mudik dilakukan untuk menahan laju penyebaran Covid-19,” tutur Puan.

Puan berharap, agar masyarakat bisa memahami bahwa pandemi Covid-19 hingga saat ini masih berlangsung. Karenanya, masyarakat diminta untuk bisa menahan keinginan untuk mudik ke kampung halaman.

“Kita harus bisa menjaga keselamatan keluarga dan lingkungan kita. Tahan keinginan ke luar kota. Jangan berkerumun, pakai masker yang betul, harus menutup rapat sebagian wajah,” ucap Puan

Sumber:RM.id