Breaking News

Implementasi Empirisme Filsafat Dalam Perkembangan Ilmu

Implementasi Empirisme Filsafat Dalam Perkembangan Ilmu

Oleh: Risa Fitri

Tradisi ideologi barat dewasa ini merupakan paradigma perkembangan budaya barat yang memiliki pengaruh yang sangat luas dan mendalam dalam segala aspek kehidupan. Memahami tradisi yang tercermin dalam pemikiran Barat dalam pandangan filosofisnya sendiri merupakan kearifan, karena kita akan mampu mengejar aspek-aspek positif yang patut ditiru, dan menemukan aspek-aspek negatif yang tidak boleh kita ulangi. Pada dasarnya filsafat merupakan ilmu dari suatu pemikiran dan kajian kritis yang ditunjang dari kepercayaan dan sikap yang dapat dibuktikan kebenarannya melalui analisis dengan konsep yang mendasar. Dalam filsafat terdapat kajian-kajian tentang bagaimana pengetahuan muncul dan bagaimana perkembangannya.
    
Membahas tentang kemunculan suatu pemikiran tentunya tidak terlepas dari peristiwa atau pengalaman yang terjadi dimasa lampau. Begitu juga dengan empirisme, dimana pengetahuan ini tidak akan muncul jika tidak ada peristiwa atau pengalaman dari pemikiran sebelumnya. Empirisme juga sudah banyak menyokong dalam ilmu pengetahuan.
    
Empirisme berasal dari bahasa Yunani “empiria” yang artinya pengalaman. Oleh karena itu, empirisme dikaitkan dengan pendapat yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan, baik pengalaman eksternal maupun pengalaman internal. Empiris umumnya percaya bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui tempat yang secara pasif meneriman hasil inderawi. Ini berarti bahwa semua pengetahuan, terlepas dari kompleks pengetahuan, dapat ditelususri kembali, dan tidak bisa menjadi pengetahuan. Selain itu, empiris mengatakan bahwa pengalaman tidak lain adalah hasil dari stimulasi objek, yang kemudian dipahami oleh otak, dan hasil dari stimulus ini merupakan respons dari objek tersebut. Empirisme adalah salah satu aliran yang merujuk pada pengalaman yang dijadikan sebagai sumber ilmu. Proses tersebut mengansumsikan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan melakukan observasi/persepsi seseorang. Pengalaman adalah elemen dasar pengetahuan dan sumber pengetahuan manusia.
    
Terdapat tiga jenis empirisme, yang pertama emprio-kritisme dimana aliran ini sangat mengedepankan konsep dunia, yang menyatukan sejumlah unsur atau sensasi netral. Yang kedua, empirisme logis yaitu analisis logis modern, yang dapat diterapkan sebagai solusi masalah filosofis dan ilmiah. Dan yang ketiga, empirisme radikal adalah aliran yang menegaskan bahwa semua pengetahuan dapat ditelusuri kembali ke pengalaman. Apa yang tidak bisa dicari/ditelusuri dianggap bukan pengetahuan. Ada tokoh empirisme seperti Thomas Hobbes dan John Locke. Pendapat dari kedua tokoh tersebut berbeda-beda akan tetapi mengarah pada satu makna yang sama yaitu segala sesuatu berasal dari pengalaman.
    
Selanjutnya pengimplementasian bagi perkembangan ilmu, dimana empririsme memiliki andil yang besar dalam penerapan ilmu pengetahuan, yaitu sebagai perkembangan pemikiran induktif. Dari segi ilmu pengetahuan, konstribusi yang paling utama adalah dengan lahirnya ilmu pengetahuan modern dan penerapan metode ilmiah pada pengetahuan. Selain itu, tradisi empirisme menjadi dasar awal dari mata rantai perkembangan ilmu-ilmu sosial, terutama pada perdebatan atau pertanyaan-pertanyaan apakah ilmu-ilmu sosial itu berbeda ataukah sama dengan ilmu-ilmu alam. Sejak itu, empirisme menempati kedudukan yang tinggi dalam metodologi ilmu-ilmu sosial. Kerapkali empirisme di sejajarkan dengan tradisi positivisme. Namun, keduanya merupakan perwakilan dari filsafat ilmu yang berbeda.
    
Empirisme lahir dan menuntut penegasan praktik rasio dan meniadakan rasio murni, sehingga muncul despotisme empiris, terutama melalui pembentukan keraguan/ketidak percayaan/ penyangkalan epistimologi lain yang diterima secara luas dalam pendidikan modern. Ini merupakan bukti dari kebenarannya.

Pada dasarnya epistimologi filsafat ini merupakan proses menggali pengetahuan yang bersumber dari pengalaman. Dan dimana dengan pengimplementasian empirisme filsafat dalam perkembangan ilmu, kita semua lebih memahami apa itu empirisme agar kita dapat mengerti pentingnya pengalaman sebagai sumber dalam ilmu pengetahuan.

Penulis merupakan Mahasiswi Fisip, Ilmu Pemerintahan di Universitas Syiah Kuala
Email:[email protected]