Breaking News

Mahmoud Ahmadinejad Calonkan Diri Lagi Jadi Presiden Iran

Mahmoud Ahmadinejad Calonkan Diri Lagi Jadi Presiden IranAFP
Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dilaporkan akan kembali mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden pada Juni 2021.

JAKARTA- Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dilaporkan akan kembali mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden pada Juni 2021.
Televisi pemerintah Iran memberitakan Mahmoud Ahmadinejad sudah mengisi formulir pendaftaran.

Dilansir AP, Mahmoud Ahmadinejad bahkan disebut hadir bersama rombongan pendukungnya ketika datang ke pusat pendaftaran di Kementerian Dalam Negeri.

Dalam beberapa tahun terakhir, Ahmadinejad berupaya mengubah citra garis kerasnya menjadi lebih sentris. Ia juga sebelumnya pernah dilarang mencalonkan diri sebagai presiden oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 2017.

Namun, Ahmadinejad tetap mendaftar walau akhirnya didiskualifikasi Dewan Garda (Guardian Council).

Iran telah membuka pendaftaran pada Selasa (11/5). Presiden Hassan Rouhani tidak dapat mencalonkan diri lagi karena batasan masa jabatan.

Dengan pemungutan suara yang akan dilakukan bulan depan, tidak ada sosok favorit yang muncul di antara banyak kandidat yang dikabarkan.

Kemungkinan besar permasalahan yang diangkat dalam pemilihan presiden tahun ini adalah soal penanganan terhadap pandemi virus corona, solusi bagi krisis ekonomi, dan politik luar negeri Iran terkait program nuklir dan sanksi dari Amerika Serikat.

Yang patut diwaspadai adalah jika yang terpilih sebagai presiden berasal dari kelompok garis keras, maka kemungkinan bakal menghambat proses perundingan perjanjian nuklir dan pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Iran mendesak AS terlebih dulu mencabut sanksi sebelum kembali membahas soal perjanjian nuklir. Sedangkan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, menolak usulan itu dan meminta Iran terlebih dulu kembali menaati perjanjian nuklir sebelum mencabut sanksi ekonomi.

Siapapun nantinya yang menang pada 18 Juni akan menggantikan Rouhani, sosok yang dinilai relatif moderat di Republik Islam, menjabat dua periode, dan dimulai dengan Iran mencapai kesepakatan nuklir.

Sementara itu, Ahmadinejad dikenal sebagai politikus garis keras. Ia membawa Iran dalam konfrontasi terbuka dengan Barat, serta dengan warganya sendiri ketika mencalonkan diri dalam Pemilu 2009. Hal itu memicu protes massa terbesar sejak Revolusi Islam 1979 di Iran.

Ia juga menyangkal Holocauset, bersikeras Iran tak memiliki warga LGBTQ, dan mengisyaratkan Iran dapat membuat senjata nuklir apabila mau melakukannya.

 

Sumber:CNN Indonesia