Breaking News

Meski Bawa Surat Negatif, Tapi Ribuan Orang yang Tiba di RI Positif Covid-19, Apa Langkah Kemenkes?

Meski Bawa Surat Negatif, Tapi Ribuan Orang yang Tiba di RI Positif Covid-19, Apa Langkah Kemenkes?
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

ACEHSTANDAR.COM - Ribuan orang yang masuk ke Indonesia dari luar negeri disebut terpapar COVID-19 meski telah membawa surat bebas virus corona.

Diketahui, setiap orang yang masuk ke Indonesia melalui bandara akan menjalani dua kali tes COVID-19, yang pertama pada saat tiba di Tanah Air (entry test) dan yang kedua setelah menjalani karantina (exit test).

"Betapa pentingnya tes entry dan tes exit, karena setelah tes entry dari 100 orang yang dites ada 1,1 persen orang yang positif. Tapi 100 orang dikarantina, ternyata begitu kita (tes) exit 2,4 persen, di luar 1,1 persen tetap juga positif," papar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI pada Senin (13/9/2021).

Berdasarkan data Kemenkes, dari total 31.187 orang yang masuk ke Indonesia, ada 1.636 orang yang dinyatakan terpapar COVID-19.

Padahal mereka semua telah membawa surat bebas COVID-19. Rinciannya, 702 orang berasal dari Arab Saudi, 582 orang dari Malaysia, 143 orang dari Uni Emirat Arab, 54 orang dari Korea Selatan, dan 36 orang dari Jepang.

Lalu ada 35 orang dari Turki, 25 orang dari Taiwan, 23 orang dari Singapura, 20 orang dari Amerika Serikat, dan 16 orang dari Qatar.

"Khususnya untuk penerbangan, penerbangan lumayan ketat dari negara asal kita minta ada PCR test. Tapi tetap ketika begitu tiba kita tes, tinggi sekali positivity rate-nya," jelas Budi.

"Yang paling tinggi adalah dari Arab Saudi, Malaysia, dan Uni Emirat Arab. Jadi kita enggak tahu juga apakah hasil PCR yang di sana memang berkualitas atau tidak dari tiga negara ini."

Menanggapi situasi tersebut, Kemenkes RI disebut Budi akan segera melakukan kerjasama bilateral dengan Kemenkes tiga negara tersebut.

Kemenkes RI juga akan memastikan laboratorium mana saja yang boleh dipakai untuk pemeriksaan PCR sebelum datang ke Indonesia.

"Untuk memastikan, membatasi, lab-lab apa saja yang boleh kita terima, yang bersertifikasi dengan baik di otoritas lokalnya untuk memastikan kualitas PCR-nya bagus," pungkas Budi.

"Karena hal yang sama juga dilakukan seperti negara Korea Selatan dan China, kalau kita mau datang ke sana, hanya beberapa lab di Indonesia yang diperbolehkan untuk bisa melakukan tes PCR, untuk menjaga kualitas, agar tidak terjadi hal-hal seperti ini."

Sumber:Wowkeren