Breaking News

OPM Tuding Aparat Abaikan Warga, TNI Sebut Gertakan Teroris

OPM Tuding Aparat Abaikan Warga, TNI Sebut Gertakan Teroris
Ilustrasi TNI berjaga di Papua hadapi OPM. (Dok. Puspen TNI

ACEHSTANDAR.COM-Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mewanti-wanti agar masyarakat Papua tak mempercayai TNI dan Polri dapat memberikan jaminan keselamatan diri di wilayah tersebut.

Juru Bicara OPM, Sebby Sambom mengatakan bahwa pihaknya sudah menabuh genderang perang kepada aparat. Sehingga, masyarakat sipil yang masih berada di wilayah-wilayah tertentu akan menjadi korban.

"Anda (masyarakat sipil) jangan dengar perintah TNI-Polri mengatakan 'Kami jamin masyarakat sipil' itu tidak ada jaminan, TNI-Polri tipu kamu," kata Sebby dalam sebuah keterangan video yang diterima wartawan, Jumat (25/6) malam.

Sebby meminta agar masyarakat sipil dari setiap golongan meninggalkan wilayah-wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona perang oleh OPM.

Dia menyebutkan, beberapa wilayah konflik seperti Intan Jaya, Puncak Jaya, Ndugama, Pegunungan Bintang hingga Yahukimo. Sebby mengamini, OPM yang kini telah dicap sebagai organisasi teroris tidak bertanggungjawab apabila ada korban sipil yang meninggal.

"Tukang bangunan kah, tukang ojek kah, segala macam segera tinggalkan wilayah konflik perang. Sebab nyawa anda kita tidak tanggung, kami sudah sampaikan. Tapi kamu dengar TNI-Polri punya penipuan mengatakan bahwa kami jamin, itu mereka tipu," kata Sebby.

Menanggapi itu, Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kapen Kogabwilhan) III, Kolonel Czi Gusti Nyoman Suriastawa menyatakan bahwa seruan-seruan OPM tersebut tak lebih dari tipuan yang digencarkan oleh kelompok tersebut.

Dia menekankan bahwa di wilayah Papua tidak mengenal yang dinamakan konflik perang. Menurutnya, setiap kejadian yang terjadi merupakan bagian dari gerakan teror OPM. Terlebih, TNI mengklaim bahwa mereka sudah semakin terpojok saat ini.

"Biar saja dia (OPM) bicara semaunya. Sampai saat ini, tidak ada wilayah konflik perang, yang ada gerakan teroris OPM yang saat ini semakin menyempit karena kemanapun bergerak selalu diburu aparat TNI-Polri," kata Gusti saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (25/6) malam.

Dia menyatakan bahwa masyarakat Papua kini semakin memperlihatkan perlawanannya terhadap kelompok separatis bersenjata yang kini ditetapkan sebagai teroris oleh pemerintah.

Menurutnya, masyarakat kini tak dapat termakan dengan propaganda OPM yang selalu bertindak di luar hukum dan malah membunuh rakyat Papua itu sendiri.

"Hal ini menunjukkan betapa marahnya rakyat melihat kebrutalan dan tindakan semena-mena OPM," tandasnya.

KKB, sebelumnya diduga menggencarkan serangan dengan menembak lima tukang bangunan yang bertugas membangun jembatan Kali Kuk, Kampung Samboga, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo pada Kamis (24/6) lalu.

Diantara lima orang tersebut, empat dinyatakan meninggal dunia. Salah satu korban tak sempat mendapat perawatan usai terluka akibat serpihan kaca mobil.

Dalam insiden tersebut, diketahui KKB yang berjumlah sekitar 30 orang menembak rombongan truk para pekerja. Mereka disatroni menggunakan berbagai senjata. Mulai dari senjata tajam, anak panah, kapal, parang, samurai, hingga senjata api laras panjang.

Berdasarkan keterangan saksi yang dihimpun polisi, terdapat empat pekerja lain yang disandera oleh KKB dan belum diketahui lokasinya hingga saat ini.

Sumber:CNNIndonesia
AS
Ampon Bram