Breaking News

Pasar Saham Syariah Terdorong Pemanfaatan Teknologi Digital

Pasar Saham Syariah Terdorong Pemanfaatan Teknologi DigitalANTARA
Ilustrasi, Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

ACEHSTANDAR.COM - Merebaknya pandemi Covid-19 mengubah berbagai aspek hidup masyarakat, termasuk dalam berinvestasi.  

Direktur Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Fadilah Kartikasari mengungkapkan, mengutip DBS Bank Consumer Survey tahun 2020, selama pandemi masyarakat cenderung menekan pengeluaran dan mengalihkannya pada pos simpanan dan investasi.

Di sisi lain, penggunaan internet di Indonesia meningkat selama pandemi Covid-19. Adapun trading dan perbankan menjadi salah satu alasan penggunaan internet di tengah pandemi.

Oleh itu tidak mengherankan, apabila jumlah investor saham cenderung meningkat dari 875.376 sebelum pandemi menjadi 2.511.521 per Juni 2021.

Perubahan yang positif ini turut berpengaruh terhadap pasar saham syariah di Indonesia. Hingga Oktober 2021, saham syariah mencapai Rp 3.695,14 triliun per 14 Oktober 2021. Capaian  ini menguasai 45,35% dari market share dan bertumbuh 10,47% dibanding tahun 2020.

Fadilah mengungkapkan, pemanfaatan teknologi memang menjadi salah satu road map pasar modal syariah tahun 2000-2004, khususnya dalam penguatan dan pengembangan infrastruktur. Dalam road map itu disebut, pemanfaatkan teknologi finansial (Tekfin) untuk mendukung pasar modal syariah. 

"Pemanfaatan teknologi untuk pasar modal syariah ada beberapa hal yakni pengembangan akses dan produk, infrastruktur, serta sosialisasi dan edukasi," jelasnya dalam panel sesi II Pasar Modal Syariah & Trend DIgital Dalam Berinvestasi acara Shariah Investment Week (SIW) yang digelar vitual, Kamis (11/11). 

Salah satunya yang sudah berjalan adalah Shariah Online Trading Sytem (SOTS). Saat ini sudah ada 14 penyedia layanan SOTS yang aktif dan diharapakan akan terus bertambah ke depannya. 

Direktur Utama Phintraco Sekuritas Jeffrey Hendrik menambahkan, penggunaan platform online trading memang semakin meningkat saat ini. Di Phintraco Sekuritas tercatat, pada tahun 2018, sebanyak 92,2% dari total order yang ada dilakukan secara online. Adapun total order pada saat itu mencapa 1,1 juta. Untuk saat ini, dari total order yang sebanyak 6,1 juta, sebesar 97,9% di antaranya berasal berasal dari online. 

Sementara dilihat dari nilai transaksinya, pada tahun 2018, sebanyak 46% dari total nilai transaksi yang sebesar Rp 3,7 triliun berasal dari online. Kontribusi online semakin meningkat. Kini, 95,9% dari total nilai transaksi yang sebesar Rp 51,4 triliun berasal dari online. 

Ke depannya,  Jeffey menganggap peluang pengembangan SOTS akan semakin besar. Ini terdorong simplifikasi RDN syariah dan peningkatan jumlah investor syariah. Di sisi lain, akan ada IPO perusahaan baru berkapitalisasi pasar jumbo yang diharapkan akan memenuhi ketentuan saham syariah.

Adapun, literasi dan kesadaran masyarakat terhadap investasi berbasis syariah juga semakin tinggi. 

Sekadar informasi, sebelumnya, Direktur Utama Kustodian Sentral efek Indonesia (KSEI) Uriep Budhi Prasetyo mengungkapkan, pandemi Covid-19 memang mengakselerasi percepatan perkembangan teknologi digital di pasar modal. Lebih dari 70% investor memiliki rekening di agen penjual fintech. 

"Hal ini menjadi peluang dan tantangan bagi para investor dan para pelaku pasar dalam mengoptimalkan teknologi digital dalam berinvestasi di pasar modal syariah," jelas Uriep saat sambutan panel sesi II Shariah Investment Week, Kamis (11/11). 

Sumber:Kontan.co.id