Breaking News

Wujud Aksiologi Pemerintahan Melalui Kebijakan Penanganan Covid-19 di Kota Banda Aceh

Wujud Aksiologi Pemerintahan Melalui Kebijakan Penanganan Covid-19 di Kota Banda Aceh

Oleh: Rizky Maulizar

Pada saat ini dunia tengah dilanda krisis kesehatan yang berdampak terhadap perkembangan ekonomi, politik dan budaya. Krisis kesehatan tersebut membuat setiap Negara harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mampu melindu negaranya sendiri tidak terkecuali Negara Indonesia. Tehitung pada tanggal 31 Desember 2019 sampai dengan pertengahan Juni 2020, bahkan waktu sampai akhir 2020, masyarakat Indonesia mengalami penderitaan yang berkepanjangan disebabkan oleh kemunculan satu jenis penyakit menular baru yang disebut dengan Corona Virus 2019. (https://www.ifsw.org  diakses 30 April 2021). 

Corona virus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Setidaknya ada dua jenis corona virus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Corona virus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus penyebab COVID-19 ini dinamakan Sars-CoV-2. (https://www.kemenkes.go.id diakses pada 30 April 2021).

Selanjutnya, dengan tingkat penyebaran yang meluas dalam waktu bersamaan dan ancaman kematian bagi mereka yang teridap virus membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020. Sementara itu, Pemerintah Indonesia sebagaimana disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan kasus pertama virus corona atau yang dikenal dengan Covid-19 pada 2 Maret 2020.

Namun langkah dari kebijakan Negara  lain yang sudah mulai menerapkan manajemen krisis dan menempatkan kesehatan sebagai aspek utama dalam rangka mitigasi, pemerintah Indonesia justru memberikan fokus utama pada pemulihan ekonomi dengan membayar influencer untuk mempromosikan pariwisata. (https://nasional.tempo.com  diakses pda 01 Mei 2021).

Dalam hal ini kebijakan awal yang dilakukan oleh pemerintah kemudian dianggap tidak memiliki sense of crisis karena mengabaikan data-data ilmiah atau hasil riset (evidence based policy) dalam pengambilan keputusan (I Wayan, 2019, hal 25). Dapat dikatakan bahwa pemerintah telah lambat dalam melakukan mitigasi juga disebabkan adanya ego sektoral dan banyaknya sumber regulasi yang membuat kerja birokrasi tidak efektif, terlebih ketika menghadapi situasi pandemi. Padahal dapat dilihat bahwa rentang waktu WHO menetapkan status pandemi hingga pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada tanggal 31 Maret 2020, kerja-kerja mitigasi dan pencegahan penyebaran Covid-19  di Indonesia penuh ketidakpastian.

Kemudian langkah dan kebijakan lain yang diambil oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran dan penularan virus Corona menyebar luas ke dalam masyarakat, pemerintah membuat serangkaian kebijakan untuk menanganinya. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tersebut ada yang tertulis, dan ada pula yang tidak tertulis. Kebijakan yang tertulis bentuknya misalnya seperti Undang-Undang (UU), Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU), Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (PERPRES), Peraturan Menteri (PERMEN), Peraturan Daerah (PERDA), Peraturan Bupati (PERBUP), Peraturan Walikota (PERWALI), dan lain-lain termasuk di dalamnya adalah Surat Keputusan (SK), dan Surat yang berasal dari pemerintah. Sedangkan kebijakan yang tidak tertulis bentuknya adalah ajakan tidak tertulis yang berasal dari pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh budaya, tokoh agama, yang berisi larangan dan himbauan terkait dengan pencegahan dan penanganan COVID-19.

Dampak virus Corona sangat besar, bersifat global, dan massif hal ini tidak hanya mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat secara umum, namun juga mempengaruhi aktivitas ekonomi, sosial, psikologis, budaya, politik, pemerintahan, pendidikan, olahraga, agama, dan lain-lain. Karena itu dibutuhkan kebijakan pemerintah yang tepat untuk mencegah dan mengatasi virus Corona ini. Kebijakan yang diperlukan bukan hanya kebijakan untuk mencegah dan menyembuhkan pasien yang terinfeksi Corona, tetapi juga kebijakan untuk mengatasi dampak sosial, psikologis, dan ekonomi yang ditimbulkan oleh virus Corona. 

Selanjutnya, situasi pandemi dimasa Covid-19 ini kemudian membuat dan memunculkan inisiatif dari beberapa kepala daerah untuk mengeluarkan kebijakan dalam merespons dengan cepat persebaran Covid-19 di wilayahnya. Tercatat beberapa kepala daerah menetapkan kebijakan lockdown. Salah satunya adalah pemerintah Kota Banda Aceh. Salah satu kebijakan yang diambil oleh walikota Banda Aceh mellaui PERWALI Nomor 45 Tahun 2020 tentang penerapan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian corona virus diseases dengan memperketat wilayah gampong. Sejak diumumkan terdeteksinya 2 orang warga Kota Banda Aceh yang terkonfirmasi positif corona maka Aminullah menetapkan kebijakan Partial Lockdown atau Lockdown  lokal. Selain itu kebijakan lain yang dilakukan oleh Aminullah dengan menyurati pemerintah Aceh untuk melakukan penutupan Bandara Sultan Iskandar Muda dan melakukan Lockdown terhadap Ibukota provinsi Aceh yaitu Kota Banda Aceh. (https://m.cnnindonesia.com diakse pada 01 Mei 2021).

Pemerintah Kota Banda Aceh, melalui Aminullah telah mengeluarkan beberapa kebijakan selama Covid-19 untuk mengatasi permasalahan krisis kesehatan yang mempengaruhi sektor ekonomi, politik maupun sosial budaya yang ada di Kota Banda Aceh. Hal ini sesuai dengan PERWALI Nomor 98 Tahun 2020 tentang Pemberian bantuan peralatan Usaha kepada pelaku usaha mikro untuk mendukung pemberdayaan usaha dan pemulihan ekonomi pada masa pandemi corona virus disease (Covid-19) di Kota Banda Aceh. Ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Aminullah Usman yaitu dengan menfokuskan  pada pemberian bantuan dana tunai, pemberian alat kerja dan pelatihan skill langsung kepada pelaku usaha yang terdampak covid-19 di wilayah Kota Banda Aceh, serta memberikan edukasi pentingnya beranjak menuju ekonomi kreatif dengan memanfaatkan media sosial dimasa pandemi. Hal ini tidak terlepas dari pandangan Aminullah yang melihat bahwa Kota Banda Aceh yang bergerak disektor perdagangan, jasa dan pariwisata harus terus berputar dimasa sulit sekalipun. (https://bandaaceh.go.id diakses 01 Mei 2021).

Selain itu kebijakan lain walikota Banda Aceh dengan menekan kebijakan pusat untuk terus meringankan kredit masyarakat bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) provinsi Aceh. Hal ini sebagai salah satu dukungan agar pusat tidak meremehkan kebijakan dan benar direalisasikan hingga tingkat daerah. Serta  fokus yang paling besar dengan memberantas rentenir ditengah pandemi yang terus menyulitkan masyarakat. Hal ini yang membuat  Aminullah menjadi salah satu Nominator Indonesia Visionary Leader 2021.(https://aceh.tribunnews.com diakses pada 01 Mei 2021). 

Kebijakan Walikota Banda Aceh tertuang dalam PERWALI Nomor 51 tahun 2020 perubahan atas PERWALI Nomor 45 Tahun 2020 tentang penerapan dispilin dan penegakan hukum protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian corona virus desease.  Walikota memang terlihat sangat cepat dan tangga dibandingkan , kepala daerah lainnya di sejumlah kabupaten/kota provinsi Aceh dalam menghadapi situasi pandemi yang tidak terduga dapat berefek terhadap ekonomi, politik dan sosial budaya di Indonesia maupun tingkat dunia. Kebijakan-kebijakan pemimpin daerah memang menjadi tantangan dan peluang tersendiri untuk disoroti oleh masyarakat terhadap kepemimpinan lokal (Munasef, 1985,hal.119).

Dalam hal ini jika dikaji secara filsafat pemerintahan secara askiologi,  ilmu pemerintahan merupakan salah satu ilmu yang memiliki segi manfaat maupun kegunaan untuk menghadapi permasalahan yang begitu kompleks yang tentunya terjadi dimasyarakat. Sehingga ilmu pemerintahan memiliki manfaat untuk emnghadapi tantangan yang ada dimasyarakat. Menurut Fred N Kerlinger dalam (Nia Karniati,2015, hal. 215) menjelaskan secara tidak langsung ilmu pemerintahan memiliki dua fungsi yakni secara dalam dan secara luar. Jika dilihat secara dalam ilmu pengetahuan dalam bidang pemerintahan memiliki fungsi sebagai suatu alat dalam menguji dirinya sendiri. Maka secara luar ilmu pemerintahan dipergunakan untuk mengindentifikasikan suatu objek, merekan dan mengambarkan suatu keadaan kemudian menerangkan gejala dan hubungannya  dan selanjutnya menerangkan apa yang akan dan dapat terjadi. Dalam hal ini kebijakan terkait penanganan covid-19 memang dilakukan oleh pemerintahan untuk membuat amsyarakat hidup dengan nyaman ditengah pandemi. Pemerintah memiliki fungsi untuk melihat segala gejala yang disebabkan oleh Covid-19 dan membuat kebijakan-kebijakan untuk mengatasinya sehingga pemerintah secara tidak langsung telah melaksanakan tugas dan fungsinya untuk bermanfaat bagi masyarakat banyak. 

Referensi :
Nia Karniawati. (2015). Hakekat Ilmu pemerintahan (Kajian secara Filsafat). Jurnal. FISIP  UNIKOM. 
Munasef. (1985). Sistem Pemerintahan di Indonesia. Jakarta : Gunung Agung. 

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Syiah Kuala.